Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas kembali mencalonkan diri sebagai
anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia untuk periode
2014-2019.
“Saya masuk lagi di Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI karena
perempuan-perempuan yang saya dukung untuk maju di legislatif masih
membutuhkan dukungan dari semua termasuk dari saya,” ujar istri Sri
Sultan Hamengku Buwono X ini.
GKR. Hemas juga mengatakan bahwa motivasi untuk kembali maju di kursi
DPD RI adalah untuk menuntaskan amendemen ke lima Undang-Undang Dasar
1945 yang belum terselesaikan.
“Keberadaan DPD masih belum bisa membahas bersama pemerintah dan DPR
di tingkat keputusan pembuatan Undang-Undang. Sehingga masih banyak
yang perlu diperjuangkan,” katanya yang saat ini masih menjabat sebagai
wakil pimpinan DPD RI.
Selain itu, Pengesahan Undang-Undang (UU) Kesetaraan Gender, menurut
dia, juga masih menjadi alasan untuk disuarakan kembali melalui DPD RI.
Lebih lanjut GKR Hemas juga menegaskan bahwa masih banyak hal yang perlu dikawal terkait UU Keistimewaan Yogyakarta.
Namun demikian, hal yang paling penting menurut dia dalam
pencalonannya kali ini adalah telah mendapatkan izin dari Sri Sultan
Hamengku Buwono X.
“Yang paling penting adalah saya sudah mendapat izin dari Ngarso Dalem,” katanya.
Dia ...
Seseorang yang mempunyai kemampuan besar untuk berkomunikasi dan melaksanakan ide-ide serta menyingkirkan penghalang terbesar dengan tenang disertai usaha yang terus-menerus untuk Indonesia.... dia Gusti Kanjeng Ratu Hemas...
Kamis, 16 Januari 2014
Direstui Sultan, GKR Hemas siap mewakili 1 juta suara rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta untuk DPD RI
GKR Hemas menargetkan meraih satu juta suara di pemilihan
anggota DPD RI 2014. Pada 2009 lalu, anggota DPD RI 2009-2014 asal
Yogyakarta itu meraih suara 800 ribu lebih.
Istri Sri Sultan Hamengku Buwono X mengatakan, target tersebut sudah diperhitungkan secara masak olehnya dan tim.
"Kami sudah perhitungkan, dengan perolehan tahun lalu yang lebih dari 800 ribu, sekarang kami targetkan 1 juta," kata Hemas saat menggelar jumpa pers di Kraton Kilen, Jumat (10/01).
Selain dukungan dari masyarakat, Hemas juga tak lupa untuk meminta restu dari Sri Sultan dan anak-anaknya. "Saya sudah direstui oleh Ngarso Dalem (Sultan HB X) untuk kembali mencalonkan diri dalam pemilihan DPD RI, Alhamdulillah putri-putri saya juga memberikan dukungan, itu sangat berarti buat saya untuk melangkah," ujarnya.
Untuk mewujudkan target tersebut, GKR Hemas bersama dengan timnya membuka diri bagi siapapun warga Yogyakarta untuk menjadi relawan pemenangan dirinya.
"Kami membuka bagi siapa pun warga Yogya yang ingin menjadi relawan untuk berjuang bersama, nanti silakan menghubungi tim kami jika ada," pungkasnya.
Istri Sri Sultan Hamengku Buwono X mengatakan, target tersebut sudah diperhitungkan secara masak olehnya dan tim.
"Kami sudah perhitungkan, dengan perolehan tahun lalu yang lebih dari 800 ribu, sekarang kami targetkan 1 juta," kata Hemas saat menggelar jumpa pers di Kraton Kilen, Jumat (10/01).
Selain dukungan dari masyarakat, Hemas juga tak lupa untuk meminta restu dari Sri Sultan dan anak-anaknya. "Saya sudah direstui oleh Ngarso Dalem (Sultan HB X) untuk kembali mencalonkan diri dalam pemilihan DPD RI, Alhamdulillah putri-putri saya juga memberikan dukungan, itu sangat berarti buat saya untuk melangkah," ujarnya.
Untuk mewujudkan target tersebut, GKR Hemas bersama dengan timnya membuka diri bagi siapapun warga Yogyakarta untuk menjadi relawan pemenangan dirinya.
"Kami membuka bagi siapa pun warga Yogya yang ingin menjadi relawan untuk berjuang bersama, nanti silakan menghubungi tim kami jika ada," pungkasnya.
Sinopsis buku - GKR Hemas: Ratu di Hati Rakyat
"Pada hari kedua masa pingitan, saya ajak nonton di Bioskop Indra. Saat
diketahui keluarga, ya Ibu marah, tetapi Bapak hanya tertawa saja,"
kenang Sri Sultan H.B. X. Sudah saatnya kita mengenal lebih dekat Gusti
Kanjeng Ratu Hemas, permaisuri Keraton Yogyakarta Hadiningrat yang
memiliki sifat welas asih dan kepedulian sosial yang tinggi, inilah yang
menjadikannya seorang ratu di hati rakyat.
Buku ini mengungkap perjalanan hidup G.K.R. Hemas sejak lahir, sekolah, dan kisah kasihnya dengan Raden Mas Herjuno yang kelak bergelar Sultan H.B. X. Herjuno rela jauh-jauh "ngapel" keJakarta dari Yogyakarta. G.K.R. Hemas dirayu dengan tembang Jawa yang dinyanyikan oleh Herjuno. Heran bercampur geli, sebab G.K.R. Hemas sama sekali tidak bisa berbahasa Jawa, sehingga tidak tahu makna tembang yang dinyanyikan Herjuno. Tresna jalaran seka kulina, cinta karena biasa bertemu, membuat G.K.R. Hemas pun menerima laki-laki asal Jawa itu menjadi kekasihnya.
Setelah resmi menjadi permaisuri, G.K.R. Hemas aktif di bidang sosial, pendidikan, kesehatan, kebudayaan, pemberdayaan perempuan dan anak, serta olahraga.
Buku ini mengungkap perjalanan hidup G.K.R. Hemas sejak lahir, sekolah, dan kisah kasihnya dengan Raden Mas Herjuno yang kelak bergelar Sultan H.B. X. Herjuno rela jauh-jauh "ngapel" keJakarta dari Yogyakarta. G.K.R. Hemas dirayu dengan tembang Jawa yang dinyanyikan oleh Herjuno. Heran bercampur geli, sebab G.K.R. Hemas sama sekali tidak bisa berbahasa Jawa, sehingga tidak tahu makna tembang yang dinyanyikan Herjuno. Tresna jalaran seka kulina, cinta karena biasa bertemu, membuat G.K.R. Hemas pun menerima laki-laki asal Jawa itu menjadi kekasihnya.
Setelah resmi menjadi permaisuri, G.K.R. Hemas aktif di bidang sosial, pendidikan, kesehatan, kebudayaan, pemberdayaan perempuan dan anak, serta olahraga.
Dunia Penuh Warna - 6
Bagaimana dengan anak-anak, sulitkah menyesuaikan diri dengan kehidupan di keraton?
Tidak, biasa saja. Anak-anak punya kesadaran sendiri untuk melestarikan budaya. Sejak kecil dan sampai sekarang mereka sudah menari dan senang menari. Paling sesekali bercanda. Misalnya soal kain. Anak saya yang ke-4 juga tomboi kayak saya. Kadang kalau pakai kain dia bilang, “Boleh enggak, Bu, jalannya pakai sepatu roda? Soalnya lama banget, nih.” Hahaha. Kebetulan, dia memang pemain sepatu roda sejak kecil. Waktu sekolah di Amerika pun dia ke kampus naik sepatu roda.
Biasanya penerus tahta keraton adalah anak laki-laki, sementara keturunan Sultan saat ini semua perempuan. Bagaimana menurut Ibu?
Kalau ditanya soal ini, saya akan selalu mengatakan kalau itu adalah kewenangan Sultan. Keputusan ada di tangan beliau. Apapun keputusannya, tidak masalah buat saya. Anak-anak pun demikian. Kami yakin Bapak itu orang bijaksana. Kami akan menghargai semua perkataannya.
Dalam hidup Ibu, apa peristiwa yang paling berkesan?
Ada satu yang sangat saya ingat. Pada saat saya mau menikah, Pak Sultan (Sultan Hamengkubuwono IX, red) berkata pada saya, “Karena suamimu laki-laki tertua dan kamu upnya 21 orang adik, suka tidak suka, kamu harus merengkuh semua.” Begitu pesan beliau yang selalu tertanam dalam benak saya. Jadi, apapun keadaannya, ada yang menyakitkan atau membuat tertekan, saya selalu merangkul semua. Ucapan beliau benar-benar berkesan buat saya.
Kalau peristiwa menyedihkan?
Hm, apa ya? Enggak ada yang terlalu menyedihkan rasanya. Soalnya saya termasuk orang yang santai. (Tertawa)
Apakah seterusnya akan aktif di dunia politik? Apa target Ibu ke depan?
Soal aktif di dunia politik atau tidak, saya belum bisa memutuskan. Sultan tetap mendukung kalau saya tetap bergelut di dunia ini, tapi saya sendiri berkeyakinan, kalau pun tidak lagi di DPD, saya tetap bisa berkarya lewat jalur lain. Selama masih mampu, saya akan terus menyumbangkan tenaga dan pikiran bagi sesama. Itu tekad saya.
Tidak, biasa saja. Anak-anak punya kesadaran sendiri untuk melestarikan budaya. Sejak kecil dan sampai sekarang mereka sudah menari dan senang menari. Paling sesekali bercanda. Misalnya soal kain. Anak saya yang ke-4 juga tomboi kayak saya. Kadang kalau pakai kain dia bilang, “Boleh enggak, Bu, jalannya pakai sepatu roda? Soalnya lama banget, nih.” Hahaha. Kebetulan, dia memang pemain sepatu roda sejak kecil. Waktu sekolah di Amerika pun dia ke kampus naik sepatu roda.
Biasanya penerus tahta keraton adalah anak laki-laki, sementara keturunan Sultan saat ini semua perempuan. Bagaimana menurut Ibu?
Kalau ditanya soal ini, saya akan selalu mengatakan kalau itu adalah kewenangan Sultan. Keputusan ada di tangan beliau. Apapun keputusannya, tidak masalah buat saya. Anak-anak pun demikian. Kami yakin Bapak itu orang bijaksana. Kami akan menghargai semua perkataannya.
Dalam hidup Ibu, apa peristiwa yang paling berkesan?
Ada satu yang sangat saya ingat. Pada saat saya mau menikah, Pak Sultan (Sultan Hamengkubuwono IX, red) berkata pada saya, “Karena suamimu laki-laki tertua dan kamu upnya 21 orang adik, suka tidak suka, kamu harus merengkuh semua.” Begitu pesan beliau yang selalu tertanam dalam benak saya. Jadi, apapun keadaannya, ada yang menyakitkan atau membuat tertekan, saya selalu merangkul semua. Ucapan beliau benar-benar berkesan buat saya.
Kalau peristiwa menyedihkan?
Hm, apa ya? Enggak ada yang terlalu menyedihkan rasanya. Soalnya saya termasuk orang yang santai. (Tertawa)
Apakah seterusnya akan aktif di dunia politik? Apa target Ibu ke depan?
Soal aktif di dunia politik atau tidak, saya belum bisa memutuskan. Sultan tetap mendukung kalau saya tetap bergelut di dunia ini, tapi saya sendiri berkeyakinan, kalau pun tidak lagi di DPD, saya tetap bisa berkarya lewat jalur lain. Selama masih mampu, saya akan terus menyumbangkan tenaga dan pikiran bagi sesama. Itu tekad saya.
Dunia Penuh Warna - 5
Kelakuan seperti apa maksudnya?
Salah satunya soal terjun payung. Jadi saya sudah latihan terjun selama hampir empat bulan. Pas besoknya mau terjun, saya minta izin sama Ibu. Dia langsung nangis-nangis, tidak memperbolehkan saya terjun.
Kenapa terjun payung?
Suka saja. (Tertawa) Dulu saya juga suka balap liar, lho.
Ibu balap liar?
Iya, salah satu teman saya adalah Bapak Haryono Isman. Kami pernah balapan dari Bandung sampai Jakarta lewat Puncak. Kalau sekarang saya lihat kondisi jalanannya, saya suka bergidik sendiri. Seram sekali, ya, ternyata. (Tertawa)
Wah, ternyata Ibu tomboi juga.
Iya, dulu saya memang agak tomboi. Tidak suka dandan dan tidak suka memerhatikan penampilan. Itu juga sebabnya ibu sempat memasukkan saya ke kursus modeling sebelum menikah. Tujuannya supaya saya bisa lebih luwes. (Tertawa)
Setelah menikah, apakah diminta berubah oleh suami?
Oh, tidak. Beliau baik sekali. Tidak pernah menuntut apa-apa. Saya yang kemudian sadar sendiri untuk menyesuaikan diri dengan keadaan keraton dan itu tidak susah. Prinsip saya, kalau sudah niat hidup dengan seseorang, sudah cinta, kita harus ikut dunia dia. Dia, toh, juga harus ikut dunia kita.
Apa contoh kesulitan yang Ibu rasakan dalam menyesuaikan diri?
Misalnya soal bahasa. Saya baru bisa bahasa Jawa Keraton halus itu setelah dua tahun menikah. Sebelumnya kalau ada tamu saya sering ngumpet di kamar. Soalnya tidak bisa ngomong. Selain itu, saya juga sempat merasa kesepian. Bayangkan, saya kan anak dari Jakarta yang pindah ke daerah. Tidak punya teman. Akhirnya setelah anak kedua lahir, saya mulai aktif di Yayasan Sayap Ibu yang baru buka di Yogya. Sempat juga lho saya diisukan macam-macam karena pulang malam. Namanya anak-anak kadang sakit tidak kenal waktu. Kalau ada yang sakit tengah malam, saya yang suka jemput dan antar ke rumah sakit. Lalu ada orang yang lihat saya menyetir malam-malam dan menuduh macam-macam. Tapi, saya sendiri tidak menanggapi karena memang tidak melakukan apa pun.
Salah satunya soal terjun payung. Jadi saya sudah latihan terjun selama hampir empat bulan. Pas besoknya mau terjun, saya minta izin sama Ibu. Dia langsung nangis-nangis, tidak memperbolehkan saya terjun.
Kenapa terjun payung?
Suka saja. (Tertawa) Dulu saya juga suka balap liar, lho.
Ibu balap liar?
Iya, salah satu teman saya adalah Bapak Haryono Isman. Kami pernah balapan dari Bandung sampai Jakarta lewat Puncak. Kalau sekarang saya lihat kondisi jalanannya, saya suka bergidik sendiri. Seram sekali, ya, ternyata. (Tertawa)
Wah, ternyata Ibu tomboi juga.
Iya, dulu saya memang agak tomboi. Tidak suka dandan dan tidak suka memerhatikan penampilan. Itu juga sebabnya ibu sempat memasukkan saya ke kursus modeling sebelum menikah. Tujuannya supaya saya bisa lebih luwes. (Tertawa)
Setelah menikah, apakah diminta berubah oleh suami?
Oh, tidak. Beliau baik sekali. Tidak pernah menuntut apa-apa. Saya yang kemudian sadar sendiri untuk menyesuaikan diri dengan keadaan keraton dan itu tidak susah. Prinsip saya, kalau sudah niat hidup dengan seseorang, sudah cinta, kita harus ikut dunia dia. Dia, toh, juga harus ikut dunia kita.
Apa contoh kesulitan yang Ibu rasakan dalam menyesuaikan diri?
Misalnya soal bahasa. Saya baru bisa bahasa Jawa Keraton halus itu setelah dua tahun menikah. Sebelumnya kalau ada tamu saya sering ngumpet di kamar. Soalnya tidak bisa ngomong. Selain itu, saya juga sempat merasa kesepian. Bayangkan, saya kan anak dari Jakarta yang pindah ke daerah. Tidak punya teman. Akhirnya setelah anak kedua lahir, saya mulai aktif di Yayasan Sayap Ibu yang baru buka di Yogya. Sempat juga lho saya diisukan macam-macam karena pulang malam. Namanya anak-anak kadang sakit tidak kenal waktu. Kalau ada yang sakit tengah malam, saya yang suka jemput dan antar ke rumah sakit. Lalu ada orang yang lihat saya menyetir malam-malam dan menuduh macam-macam. Tapi, saya sendiri tidak menanggapi karena memang tidak melakukan apa pun.
Dunia Penuh Warna - 4
Bapak tidak keberatan?
Tidak, beliau santai saja. Ini sudah menjadi komitmen kami berdua. Sebelum menjadi anggota DPD, saya, kan, meminta dukungan Bapak dan anak-anak dulu. Bagi saya, dukungan mereka sangat penting. Karena mereka oke, saya baru jalan. Tinggal berjauhan hanyalah salah satu konsekuensinya. Tapi, saya termasuk beruntung karena memiliki suami yang sangat mandiri.
Bapak suami mandiri?
Sangat. Mungkin tidak banyak orang yang tahu kalau beliau selalu menyeterika sendiri baju yang akan dipakainya pagi hari. Makanya, di kamar saya ada meja seterika. Sepatu juga begitu. Mau saya gosok puluhan kali, tidak akan pernah pas. Beliau maunya gosok sendiri. Kadang kalau ada kunjungan ke luar negeri, beliau malah berkata ke saya, “Mana bajumu yang mau kamu pakai? Gantung saja dulu, nanti saya seterikain.” Enak, kan? (Tertawa)
Ceritakan, dong, tentang pertemuan Ibu dan Bapak?
Kakek dan nenek saya dari Yogyakarta, sementara saya lahir dan besar di Jakarta. Setiap tahun saya ke Yogya untuk nyekar. Kebetulan kampung eyang dekat dengan keraton. Waktu itu, saya keluar dari gang rumah eyang dan Pak Sultan ada di ujung gang, lagi nongkrong makan bakmi. Sejak melihat saya, Pak Sultan mengaku sudah suka.
Kalau Ibu, awalnya tidak suka dengan Bapak?
Bukannya enggak suka, tapi banyak pilihan lain. (Tertawa)
Bagaimana sampai akhirnya Ibu menerima Bapak?
Sebenarnya saya bukannya menolak, tapi butuh pemikiran. Namanya orang Jakarta yang berkenalan dengan orang daerah. Saat itu saya juga tidak tahu kalau berpasangan dengan anak Sultan itu merupakan sebuah kebanggaan. Saya, sih, menganggap Bapak seperti pria biasa. Tapi, ternyata ibu saya yang merasa sangat bangga dan mendorong-dorong saya untuk menerima Bapak. Saya sempat kabur ke Jerman, lho, untuk memikirkan itu semua. Begitu di sana, ibu memohon pada saya untuk pulang dan menikah dengan sultan. Sebagai anak perempuan satu-satunya, saya kepikiran juga sama ibu yang seumur hidup tidak pernah mantu, selalu ngunduh mantu. Akhirnya saya menuruti Ibu. Lagipula, saya kasihan sama Ibu yang sudah sering pusing dengan kelakuan saya.
Tidak, beliau santai saja. Ini sudah menjadi komitmen kami berdua. Sebelum menjadi anggota DPD, saya, kan, meminta dukungan Bapak dan anak-anak dulu. Bagi saya, dukungan mereka sangat penting. Karena mereka oke, saya baru jalan. Tinggal berjauhan hanyalah salah satu konsekuensinya. Tapi, saya termasuk beruntung karena memiliki suami yang sangat mandiri.
Bapak suami mandiri?
Sangat. Mungkin tidak banyak orang yang tahu kalau beliau selalu menyeterika sendiri baju yang akan dipakainya pagi hari. Makanya, di kamar saya ada meja seterika. Sepatu juga begitu. Mau saya gosok puluhan kali, tidak akan pernah pas. Beliau maunya gosok sendiri. Kadang kalau ada kunjungan ke luar negeri, beliau malah berkata ke saya, “Mana bajumu yang mau kamu pakai? Gantung saja dulu, nanti saya seterikain.” Enak, kan? (Tertawa)
Ceritakan, dong, tentang pertemuan Ibu dan Bapak?
Kakek dan nenek saya dari Yogyakarta, sementara saya lahir dan besar di Jakarta. Setiap tahun saya ke Yogya untuk nyekar. Kebetulan kampung eyang dekat dengan keraton. Waktu itu, saya keluar dari gang rumah eyang dan Pak Sultan ada di ujung gang, lagi nongkrong makan bakmi. Sejak melihat saya, Pak Sultan mengaku sudah suka.
Kalau Ibu, awalnya tidak suka dengan Bapak?
Bukannya enggak suka, tapi banyak pilihan lain. (Tertawa)
Bagaimana sampai akhirnya Ibu menerima Bapak?
Sebenarnya saya bukannya menolak, tapi butuh pemikiran. Namanya orang Jakarta yang berkenalan dengan orang daerah. Saat itu saya juga tidak tahu kalau berpasangan dengan anak Sultan itu merupakan sebuah kebanggaan. Saya, sih, menganggap Bapak seperti pria biasa. Tapi, ternyata ibu saya yang merasa sangat bangga dan mendorong-dorong saya untuk menerima Bapak. Saya sempat kabur ke Jerman, lho, untuk memikirkan itu semua. Begitu di sana, ibu memohon pada saya untuk pulang dan menikah dengan sultan. Sebagai anak perempuan satu-satunya, saya kepikiran juga sama ibu yang seumur hidup tidak pernah mantu, selalu ngunduh mantu. Akhirnya saya menuruti Ibu. Lagipula, saya kasihan sama Ibu yang sudah sering pusing dengan kelakuan saya.
Dunia Penuh Warna - 3
Bagaimana kehidupan anak-anak di luar negeri?
Biasa saja. Yang pasti, kami tidak mengirimkan banyak uang. Secukupnya saja untuk biaya kuliah dan biaya hidup. Kalau mau bersenang-senang, mereka harus mencari uang sendiri. Makanya, anak-anak biasanya kuliah sambil bekerja di sana, misalnya menjadi pelayan restoran.
Memiliki lima anak yang semuanya perempuan pasti seru.
Wah, anak-anak saya banyolan semua. Kalau ngumpul, isinya pasti ketawa terus. Selain itu, anak-anak juga mirip saya, agak tomboi. Semua tidak suka berdandan, kecuali yang nomor tiga, agak lumayan. Mereka jarang sekali pakai bedak, cuma cuci muka. (Tertawa) Ini tadi pagi saya berangkat dari Yogyakarta dengan anak nomor empat. Tahu-tahu dia ngomong sama saya, “Bu, saya, kan, belum mandi.” Ya ampun! (Tertawa)
Ada kegiatan yang sering dilakukan bersama?
Mereka semua hobi makan dan nonton. Jadi, suka makan dan nonton
bareng. Saat ini, kelima putri saya juga sedang merintis bisnis spa tradisional. Ini usaha mereka sendiri, saya dan Bapak tidak ikut-ikutan.
Bagaimana cara Ibu menjaga keharmonisan di antara anak-anak?
Saya selalu mengingatkan mereka untuk selalu saling toleransi, menghargai, dan menghormati. Itu saja yang penting.
Kalau menjaga keharmonisan dengan Bapak?
Karena memiliki tugas dan tanggung jawab masing-masing, saya dan Bapak tidak setiap hari bertemu. Saya di Jakarta, Bapak di Yogyakarta. Saya selalu mengusahakan untuk pulang ke Yogyakarta setiap Jumat malam atau Sabtu pagi dan kemudian kembali lagi ke Jakarta Senin pagi. Praktis ini sudah kami lakukan sejak tahun 2004.
Biasa saja. Yang pasti, kami tidak mengirimkan banyak uang. Secukupnya saja untuk biaya kuliah dan biaya hidup. Kalau mau bersenang-senang, mereka harus mencari uang sendiri. Makanya, anak-anak biasanya kuliah sambil bekerja di sana, misalnya menjadi pelayan restoran.
Memiliki lima anak yang semuanya perempuan pasti seru.
Wah, anak-anak saya banyolan semua. Kalau ngumpul, isinya pasti ketawa terus. Selain itu, anak-anak juga mirip saya, agak tomboi. Semua tidak suka berdandan, kecuali yang nomor tiga, agak lumayan. Mereka jarang sekali pakai bedak, cuma cuci muka. (Tertawa) Ini tadi pagi saya berangkat dari Yogyakarta dengan anak nomor empat. Tahu-tahu dia ngomong sama saya, “Bu, saya, kan, belum mandi.” Ya ampun! (Tertawa)
Ada kegiatan yang sering dilakukan bersama?
Mereka semua hobi makan dan nonton. Jadi, suka makan dan nonton
bareng. Saat ini, kelima putri saya juga sedang merintis bisnis spa tradisional. Ini usaha mereka sendiri, saya dan Bapak tidak ikut-ikutan.
Bagaimana cara Ibu menjaga keharmonisan di antara anak-anak?
Saya selalu mengingatkan mereka untuk selalu saling toleransi, menghargai, dan menghormati. Itu saja yang penting.
Kalau menjaga keharmonisan dengan Bapak?
Karena memiliki tugas dan tanggung jawab masing-masing, saya dan Bapak tidak setiap hari bertemu. Saya di Jakarta, Bapak di Yogyakarta. Saya selalu mengusahakan untuk pulang ke Yogyakarta setiap Jumat malam atau Sabtu pagi dan kemudian kembali lagi ke Jakarta Senin pagi. Praktis ini sudah kami lakukan sejak tahun 2004.
Dunia Penuh Warna - 2
Opini Ibu tentang wanita dan wirausaha?
Wanita dan dunia bisnis itu sangat dekat. Pelaku usaha pun saat ini banyak yang wanita. Mulai dari pengusaha katering, pedagang bawang, sampai pemilik bisnis papan atas. Wanita memiliki banyak sifat dan karakter hebat yang bisa menjadi kelebihannya. Buat saya, sih, kemampuan perempuan itu memang luar biasa. Coba lihat waktu terjadi pemutusan kerja besar-besaran di tahun 1998. Bapak-bapaknya mungkin tidak mau kerja di pinggir jalan, tapi kaum ibunya tak sungkan untuk, misalnya, sekadar berjualan pisang.
Kelebihan perempuan dibanding laki-laki?
Wanita bisa bersinar saat tertekan sekali pun. Makanya, saya selalu mengatakan perempuan itu lebih hebat. Lebih inovatif. Hal lain yang juga menguntungkan, saat ini kesempatan sudah terbuka lebih luas. Dulu wanita sulit untuk melakukan peminjaman modal dari bank, sekarang sudah dimungkinkan. Posisinya sudah lebih setara dengan pria, walau pun belum sepenuhnya. Soal kesetaraan ini memang menjadi masalah tersendiri. Salah satu undang-undang yang sampai saat ini belum dibahas adalah tentang kesetaraan gender. Ada pemikiran bahwa UU itu nantinya akan melegalkan perkawinan sesama jenis atau membuat wanita jadi kebablasan. Padahal intinya bukan di situ. Kesetaraan itu penting, kemandirian itu penting, tapi tentu semua ada aturannya.
Bagi GKR Hemas, kemandirian sangat penting dimiliki perempuan. Itulah salah satu prinsip yang ia tekankan pada kelima putrinya, GKR Pembayun, GRAy Nurma Gupita, GRAy Nurkamnari Dewi, GRAy Nurabra Juwita, dan GRAy Nur Astuti Wijareni. Karena itu jugalah, sejak lulus SMA mereka sudah disekolahkan ke luar negeri.
Ada alasan tertentu mengapa menyekolahkan anak jauh-jauh?
Yang terutama, saya ingin mereka semua jadi anak yang mandiri. Dengan berjauhan dari orang tua, mau tidak mau mereka harus mandiri. Tidak bisa bergantung pada ayah dan ibunya. Selain itu, saya ingin anak-anak punya nilai lebih, seperti bisa berbahasa Inggris dan bisa berkomunikasi dengan dunia luar.
Sekolah di negara orang tidak membuat anak lupa budaya sendiri?
Oh, tidak sama sekali. Justru mereka jadi bisa tahu apa yang baik dilakukan untuk mengembangkan kebudayaan di Yogyakarta. Saya melihat, kemandirian itu justru melahirkan kreativitas anak untuk mencari tahu tentang banyak hal, seperti ke depannya mau jadi apa, mau mencari suami seperti apa, termasuk mau melestarikan budaya dengan cara bagaimana.
Wanita dan dunia bisnis itu sangat dekat. Pelaku usaha pun saat ini banyak yang wanita. Mulai dari pengusaha katering, pedagang bawang, sampai pemilik bisnis papan atas. Wanita memiliki banyak sifat dan karakter hebat yang bisa menjadi kelebihannya. Buat saya, sih, kemampuan perempuan itu memang luar biasa. Coba lihat waktu terjadi pemutusan kerja besar-besaran di tahun 1998. Bapak-bapaknya mungkin tidak mau kerja di pinggir jalan, tapi kaum ibunya tak sungkan untuk, misalnya, sekadar berjualan pisang.
Kelebihan perempuan dibanding laki-laki?
Wanita bisa bersinar saat tertekan sekali pun. Makanya, saya selalu mengatakan perempuan itu lebih hebat. Lebih inovatif. Hal lain yang juga menguntungkan, saat ini kesempatan sudah terbuka lebih luas. Dulu wanita sulit untuk melakukan peminjaman modal dari bank, sekarang sudah dimungkinkan. Posisinya sudah lebih setara dengan pria, walau pun belum sepenuhnya. Soal kesetaraan ini memang menjadi masalah tersendiri. Salah satu undang-undang yang sampai saat ini belum dibahas adalah tentang kesetaraan gender. Ada pemikiran bahwa UU itu nantinya akan melegalkan perkawinan sesama jenis atau membuat wanita jadi kebablasan. Padahal intinya bukan di situ. Kesetaraan itu penting, kemandirian itu penting, tapi tentu semua ada aturannya.
Bagi GKR Hemas, kemandirian sangat penting dimiliki perempuan. Itulah salah satu prinsip yang ia tekankan pada kelima putrinya, GKR Pembayun, GRAy Nurma Gupita, GRAy Nurkamnari Dewi, GRAy Nurabra Juwita, dan GRAy Nur Astuti Wijareni. Karena itu jugalah, sejak lulus SMA mereka sudah disekolahkan ke luar negeri.
Ada alasan tertentu mengapa menyekolahkan anak jauh-jauh?
Yang terutama, saya ingin mereka semua jadi anak yang mandiri. Dengan berjauhan dari orang tua, mau tidak mau mereka harus mandiri. Tidak bisa bergantung pada ayah dan ibunya. Selain itu, saya ingin anak-anak punya nilai lebih, seperti bisa berbahasa Inggris dan bisa berkomunikasi dengan dunia luar.
Sekolah di negara orang tidak membuat anak lupa budaya sendiri?
Oh, tidak sama sekali. Justru mereka jadi bisa tahu apa yang baik dilakukan untuk mengembangkan kebudayaan di Yogyakarta. Saya melihat, kemandirian itu justru melahirkan kreativitas anak untuk mencari tahu tentang banyak hal, seperti ke depannya mau jadi apa, mau mencari suami seperti apa, termasuk mau melestarikan budaya dengan cara bagaimana.
Dunia Penuh Warna - 1
Saat bertemu Sekar di ruang kerjanya di Nusantara 3, Gedung DPR, Jakarta, GKR Hemas baru saja mendarat dari Yogyakarta. Meski begitu, tak tampak sedikit pun kelelahan di wajahnya. Dengan gayanya yang ceria dan penuh semangat, GKR Hemas bercerita tentang warna-warni kehidupannya.
Sekar: Bagaimana kabarnya, Ibu?
GKR Hemas: Baik sekali. Ini saya baru datang dari Yogyakarta. Jalanan padat sekali. Waktu tempuh dari bandara ke kantor jadi lebih lama dibanding dari Yogyakarta ke Jakarta.
Sekarang bolak-balik Yogyakarta – Jakarta terus, ya, Bu?
Iya, tepatnya sejak saya menjadi anggota DPD tahun 2004. Ini sudah merupakan tanggung jawab saya dan merupakan bagian dari konsekuensi. Saya punya kewajiban di Yogyakarta dan punya kewajiban di Jakarta.
Sebenarnya apa yang mendorong Ibu terjun ke dunia politik?
Saya melihat setiap kegiatan pada dasarnya bersinggungan dengan kebijakan politik. Mulai dari persoalan perempuan, kesehatan, pendidikan, dan lain sebagainya. Saya juga merasa prihatin karena melihat anggaran pendidikan dan kesehatan sangat dibatasi. Karena itu, saya pikir, kenapa saya tidak mencoba masuk ke politik, untuk mencari tahu dan melihat secara langsung proses pembentukan kebijakan, serta mengawal kepentingan daerah di dalam setiap kebijakan yang dibuat oleh pusat.
Menurut Ibu, apakah sebaiknya wanita juga aktif berpolitik?
Iya, dong. Tapi, yang perlu dibangun lebih dulu adalah kesadarannya. Saat ini dunia politik kesannya kejam, jahat, buruk, keras, dan lain-lain. Pokoknya negatif banget, deh. Akhirnya banyak yang tidak tertarik. Padahal kondisinya bisa jadi berbeda kalau banyak perempuan yang masuk ke dalam dan berperan di situ. Kita pun bisa memperjuangkan hak-hak kita sebagai perempuan.
Sekar: Bagaimana kabarnya, Ibu?
GKR Hemas: Baik sekali. Ini saya baru datang dari Yogyakarta. Jalanan padat sekali. Waktu tempuh dari bandara ke kantor jadi lebih lama dibanding dari Yogyakarta ke Jakarta.
Sekarang bolak-balik Yogyakarta – Jakarta terus, ya, Bu?
Iya, tepatnya sejak saya menjadi anggota DPD tahun 2004. Ini sudah merupakan tanggung jawab saya dan merupakan bagian dari konsekuensi. Saya punya kewajiban di Yogyakarta dan punya kewajiban di Jakarta.
Sebenarnya apa yang mendorong Ibu terjun ke dunia politik?
Saya melihat setiap kegiatan pada dasarnya bersinggungan dengan kebijakan politik. Mulai dari persoalan perempuan, kesehatan, pendidikan, dan lain sebagainya. Saya juga merasa prihatin karena melihat anggaran pendidikan dan kesehatan sangat dibatasi. Karena itu, saya pikir, kenapa saya tidak mencoba masuk ke politik, untuk mencari tahu dan melihat secara langsung proses pembentukan kebijakan, serta mengawal kepentingan daerah di dalam setiap kebijakan yang dibuat oleh pusat.
Menurut Ibu, apakah sebaiknya wanita juga aktif berpolitik?
Iya, dong. Tapi, yang perlu dibangun lebih dulu adalah kesadarannya. Saat ini dunia politik kesannya kejam, jahat, buruk, keras, dan lain-lain. Pokoknya negatif banget, deh. Akhirnya banyak yang tidak tertarik. Padahal kondisinya bisa jadi berbeda kalau banyak perempuan yang masuk ke dalam dan berperan di situ. Kita pun bisa memperjuangkan hak-hak kita sebagai perempuan.
Peran Sosial dan Politik GKR Hemas
- Pada awal kegiatannya di Kraton Yogyakarta aktivitas sosial GKR Hemas berkisar di Yayasan Sayap Ibu dan pemberantasan buta aksara di Yogyakarta sebagai pengajar. Sebelumnya, GKR Hemas juga pernah menjadi anggota MPR (Majelis Permusyawaratan Rakyat) masa jabatan 1997-1999 dari Fraksi Utusan Golongan, dan pernah pula menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Kartini.
- Pada tahun 2004, GKR Hemas mengajukan diri menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah dari Daerah Istimewa Yogyakarta tanpa partai politik dan terpilih. Ia juga aktif pada organisasi GPSP (Gerakan Pemberdayaan Suara Perempuan) karena ingin memahami kegiatan perempuan, hak hak perempuan dan alasan terjun dalam dunia politik. Di tahun ini pulalah beliau dan kawan-kawan perempuan lainnya mendirikan Pusat Pelayanan Terpadu Perempuan dan Anak Korban Kekerasan Rekso Dyah Utami.
- Pada November 2008, wawancara dengan Arfi Bambani Amri, Nenden Novianti, A Rizalludin dan Tri Saputro dari VIVAnews, GKR Hemas mengungkapkan pandangan politiknya menentang Undang-Undang Pornografi karena dinilai menyudutkan perempuan. Ratu Hemas bahkan ikut turun ke jalan, berdemonstrasi bersama ribuan rakyat Bali dan Jogja menentang, karena walaupun setuju untuk perlindungan anak dan bahaya internet, ia tidak setuju penggunaan undang-undang untuk hal tersebut.
- Pada tahun 2009, GKR Hemas terpilih kembali menjadi Anggota Dewan Perwakilan Daerah RI independen (tanpa partai politik) untuk masa jabatan 2009-2014 dengan perolehan 941.153 suara, yang diklaim sebagai delapan puluh persen dari masyarakat Yogya.
- Pada November 2012, GKR Hemas bersama dengan Laode Ida, I Wayan Sudirta, dan John Pieris mewakili Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI menggugat uji materiil Undang-Undang no 27 tahun 2009 dan Undang-Undang no 12 tahun 2011 ke Mahkamah Konstitusi terkait dengan pasal 22 D UUD 45 mengenai hak-hak yang sama antara lembaga DPD dan DPR, dan melemahkan hubungan antara pusat dan daerah. Selama ini pada proses pembuatan hukum DPD mendapat kekuasaan untuk memberi masukan, namun tidak mendapat peran untuk meloloskan hukum tersebut. DPD ingin badan legislasi giat mendukung keinginan rakyat di daerah, dan mendapat peran untuk kuasa ini. Wayan menambahkan bahwa berdasar konstitusi DPD juga berhak mengajukan RUU dan telah mengajukan 35 usulan RUU dari DPD RI, namun tidak pernah dibahas DPR. Pendapat sebaiknya DPD RI diperkuat atau dibubarkan saja. Lima gugatan uji materiil diantaranya adalah 1) kesetaraan peran DPD dalam meloloskan Undang Undang; 2) usulan RUU dari DPD diperlakukan setara dengan usulan pemerintah; 3) Pelibatan DPD dalam semua tingkatan pembahasan; 4) pembahasan RUU hanya oleh tiga lembaga; 5) DPD ikut memberikan persetujuan pembuatan UU.
Gusti Kanjeng Ratu Hemas
Lahir di Jakarta, 31 Oktober 1952, umur 61 tahun. Nama lahirnya adalah Tatiek Dradjad Supriastuti, permaisuri dari Sri Sultan Hamengku Buwono X, raja Kasultanan Yogyakarta sejak tahun 1989 dan saat ini sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta sejak tahun 1998. Sejak tahun 2004, Ratu Hemas menjadi anggota dari Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia asal Daerah Istimewa Yogyakarta dan sejak tahun 2009 menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia.
Anak ketiga (perempuan tunggal) dari tujuh bersaudara. Ia tinggal dan dibesarkan di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Ayah, Soepono Digdosastropranoto, seorang ABRI yang berasal dari Yogyakarta, dan ibu, Susamtilah Soepono, seorang ibu rumah tangga, yang berasal dari Wates, Kulon Progo. Hingga SMA, beliau di Jakarta, dan sempat kuliah di Fakultas Arsitektur, Trisakti, Jakarta, namun tidak diselesaikan karena menikah pada tahun 1968. Beliau kemudian pindah dari Jakarta ke Yogyakarta pada tahun 1972 mengikuti suaminya.
Sejak kecil setiap tahun, keluarganya di Jakarta berlibur ke rumah kakeknya (pernah berbakti sebagai abdi dalem Kraton Yogyakarta) di Soronatan. Pada tahun 1970-an di Yogyakarta, beliau bertemu Herjuno Darpito (putra tertua Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang saat itu berkuasa) yang di kemudian hari dinobatkan menjadi Sri Sultan Hamengku Buwono X. Pada umur 19 tahun, beliau menikah dengan Herjuno Darpito (6 tahun lebih tua) dan meninggalkan kuliahnya. Nama suaminya diganti untuk pertama kalinya menjadi Mangkubumi, dan beliau berganti nama tiga kali hingga yang terakhir adalah Gusti Kanjeng Ratu Hemas (saat itu Herjuno Darpito naik takhta menjadi Sri Sultan Hamengku Buwono X). Pernikahannya dikaruniai lima puteri: GKR Pembayun, GKR Condro Kirono, GKR Maduretno, GKR Hayu, dan GKR Bendara.
Anak ketiga (perempuan tunggal) dari tujuh bersaudara. Ia tinggal dan dibesarkan di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Ayah, Soepono Digdosastropranoto, seorang ABRI yang berasal dari Yogyakarta, dan ibu, Susamtilah Soepono, seorang ibu rumah tangga, yang berasal dari Wates, Kulon Progo. Hingga SMA, beliau di Jakarta, dan sempat kuliah di Fakultas Arsitektur, Trisakti, Jakarta, namun tidak diselesaikan karena menikah pada tahun 1968. Beliau kemudian pindah dari Jakarta ke Yogyakarta pada tahun 1972 mengikuti suaminya.
Sejak kecil setiap tahun, keluarganya di Jakarta berlibur ke rumah kakeknya (pernah berbakti sebagai abdi dalem Kraton Yogyakarta) di Soronatan. Pada tahun 1970-an di Yogyakarta, beliau bertemu Herjuno Darpito (putra tertua Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang saat itu berkuasa) yang di kemudian hari dinobatkan menjadi Sri Sultan Hamengku Buwono X. Pada umur 19 tahun, beliau menikah dengan Herjuno Darpito (6 tahun lebih tua) dan meninggalkan kuliahnya. Nama suaminya diganti untuk pertama kalinya menjadi Mangkubumi, dan beliau berganti nama tiga kali hingga yang terakhir adalah Gusti Kanjeng Ratu Hemas (saat itu Herjuno Darpito naik takhta menjadi Sri Sultan Hamengku Buwono X). Pernikahannya dikaruniai lima puteri: GKR Pembayun, GKR Condro Kirono, GKR Maduretno, GKR Hayu, dan GKR Bendara.
Langganan:
Komentar (Atom)