Opini Ibu tentang wanita dan wirausaha?
Wanita dan dunia bisnis itu sangat dekat. Pelaku usaha pun saat ini banyak yang wanita. Mulai dari pengusaha katering, pedagang bawang, sampai pemilik bisnis papan atas. Wanita memiliki banyak sifat dan karakter hebat yang bisa menjadi kelebihannya. Buat saya, sih, kemampuan perempuan itu memang luar biasa. Coba lihat waktu terjadi pemutusan kerja besar-besaran di tahun 1998. Bapak-bapaknya mungkin tidak mau kerja di pinggir jalan, tapi kaum ibunya tak sungkan untuk, misalnya, sekadar berjualan pisang.
Kelebihan perempuan dibanding laki-laki?
Wanita bisa bersinar saat tertekan sekali pun. Makanya, saya selalu mengatakan perempuan itu lebih hebat. Lebih inovatif. Hal lain yang juga menguntungkan, saat ini kesempatan sudah terbuka lebih luas. Dulu wanita sulit untuk melakukan peminjaman modal dari bank, sekarang sudah dimungkinkan. Posisinya sudah lebih setara dengan pria, walau pun belum sepenuhnya. Soal kesetaraan ini memang menjadi masalah tersendiri. Salah satu undang-undang yang sampai saat ini belum dibahas adalah tentang kesetaraan gender. Ada pemikiran bahwa UU itu nantinya akan melegalkan perkawinan sesama jenis atau membuat wanita jadi kebablasan. Padahal intinya bukan di situ. Kesetaraan itu penting, kemandirian itu penting, tapi tentu semua ada aturannya.
Bagi GKR Hemas, kemandirian sangat penting dimiliki perempuan. Itulah salah satu prinsip yang ia tekankan pada kelima putrinya, GKR Pembayun, GRAy Nurma Gupita, GRAy Nurkamnari Dewi, GRAy Nurabra Juwita, dan GRAy Nur Astuti Wijareni. Karena itu jugalah, sejak lulus SMA mereka sudah disekolahkan ke luar negeri.
Ada alasan tertentu mengapa menyekolahkan anak jauh-jauh?
Yang terutama, saya ingin mereka semua jadi anak yang mandiri. Dengan berjauhan dari orang tua, mau tidak mau mereka harus mandiri. Tidak bisa bergantung pada ayah dan ibunya. Selain itu, saya ingin anak-anak punya nilai lebih, seperti bisa berbahasa Inggris dan bisa berkomunikasi dengan dunia luar.
Sekolah di negara orang tidak membuat anak lupa budaya sendiri?
Oh, tidak sama sekali. Justru mereka jadi bisa tahu apa yang baik dilakukan untuk mengembangkan kebudayaan di Yogyakarta. Saya melihat, kemandirian itu justru melahirkan kreativitas anak untuk mencari tahu tentang banyak hal, seperti ke depannya mau jadi apa, mau mencari suami seperti apa, termasuk mau melestarikan budaya dengan cara bagaimana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar