"Pada hari kedua masa pingitan, saya ajak nonton di Bioskop Indra. Saat
diketahui keluarga, ya Ibu marah, tetapi Bapak hanya tertawa saja,"
kenang Sri Sultan H.B. X. Sudah saatnya kita mengenal lebih dekat Gusti
Kanjeng Ratu Hemas, permaisuri Keraton Yogyakarta Hadiningrat yang
memiliki sifat welas asih dan kepedulian sosial yang tinggi, inilah yang
menjadikannya seorang ratu di hati rakyat.
Buku ini
mengungkap perjalanan hidup G.K.R. Hemas sejak lahir, sekolah, dan kisah
kasihnya dengan Raden Mas Herjuno yang kelak bergelar Sultan H.B. X.
Herjuno rela jauh-jauh "ngapel" keJakarta dari Yogyakarta. G.K.R. Hemas
dirayu dengan tembang Jawa yang dinyanyikan oleh Herjuno. Heran
bercampur geli, sebab G.K.R. Hemas sama sekali tidak bisa berbahasa
Jawa, sehingga tidak tahu makna tembang yang dinyanyikan Herjuno. Tresna
jalaran seka kulina, cinta karena biasa bertemu, membuat G.K.R. Hemas
pun menerima laki-laki asal Jawa itu menjadi kekasihnya.
Setelah
resmi menjadi permaisuri, G.K.R. Hemas aktif di bidang sosial,
pendidikan, kesehatan, kebudayaan, pemberdayaan perempuan dan anak,
serta olahraga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar