Dia ...

Seseorang yang mempunyai kemampuan besar untuk berkomunikasi dan melaksanakan ide-ide serta menyingkirkan penghalang terbesar dengan tenang disertai usaha yang terus-menerus untuk Indonesia.... dia Gusti Kanjeng Ratu Hemas...

Kamis, 16 Januari 2014

Gusti Kanjeng Ratu Hemas

Lahir di Jakarta, 31 Oktober 1952, umur 61 tahun. Nama lahirnya adalah Tatiek Dradjad Supriastuti, permaisuri dari Sri Sultan Hamengku Buwono X, raja Kasultanan Yogyakarta sejak tahun 1989 dan saat ini sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta sejak tahun 1998. Sejak tahun 2004, Ratu Hemas menjadi anggota dari Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia asal Daerah Istimewa Yogyakarta dan sejak tahun 2009 menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia.

Anak ketiga (perempuan tunggal) dari tujuh bersaudara. Ia tinggal dan dibesarkan di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Ayah, Soepono Digdosastropranoto, seorang ABRI yang berasal dari Yogyakarta, dan ibu, Susamtilah Soepono, seorang ibu rumah tangga, yang berasal dari Wates, Kulon Progo. Hingga SMA, beliau di Jakarta, dan sempat kuliah di Fakultas Arsitektur, Trisakti, Jakarta, namun tidak diselesaikan karena menikah pada tahun 1968. Beliau kemudian pindah dari Jakarta ke Yogyakarta pada tahun 1972 mengikuti suaminya.

Sejak kecil setiap tahun, keluarganya di Jakarta berlibur ke rumah kakeknya (pernah berbakti sebagai abdi dalem Kraton Yogyakarta) di Soronatan. Pada tahun 1970-an di Yogyakarta, beliau bertemu Herjuno Darpito (putra tertua Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang saat itu berkuasa) yang di kemudian hari dinobatkan menjadi Sri Sultan Hamengku Buwono X. Pada umur 19 tahun, beliau menikah dengan Herjuno Darpito (6 tahun lebih tua) dan meninggalkan kuliahnya. Nama suaminya diganti untuk pertama kalinya menjadi Mangkubumi, dan beliau berganti nama tiga kali hingga yang terakhir adalah Gusti Kanjeng Ratu Hemas (saat itu Herjuno Darpito naik takhta menjadi Sri Sultan Hamengku Buwono X). Pernikahannya dikaruniai lima puteri: GKR Pembayun, GKR Condro Kirono, GKR Maduretno, GKR Hayu, dan GKR Bendara. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar