Kelakuan seperti apa maksudnya?
Salah satunya soal terjun payung. Jadi saya sudah latihan terjun selama
hampir empat bulan. Pas besoknya mau terjun, saya minta izin sama Ibu.
Dia langsung nangis-nangis, tidak memperbolehkan saya terjun.
Kenapa terjun payung?
Suka saja. (Tertawa) Dulu saya juga suka balap liar, lho.
Ibu balap liar?
Iya, salah satu teman saya adalah Bapak Haryono Isman. Kami pernah
balapan dari Bandung sampai Jakarta lewat Puncak. Kalau sekarang saya
lihat kondisi jalanannya, saya suka bergidik sendiri. Seram sekali, ya,
ternyata. (Tertawa)
Wah, ternyata Ibu tomboi juga.
Iya, dulu saya memang agak tomboi. Tidak suka dandan dan tidak suka
memerhatikan penampilan. Itu juga sebabnya ibu sempat memasukkan saya ke
kursus modeling sebelum menikah. Tujuannya supaya saya bisa lebih
luwes. (Tertawa)
Setelah menikah, apakah diminta berubah oleh suami?
Oh, tidak. Beliau baik sekali. Tidak pernah menuntut apa-apa. Saya yang
kemudian sadar sendiri untuk menyesuaikan diri dengan keadaan keraton
dan itu tidak susah. Prinsip saya, kalau sudah niat hidup dengan
seseorang, sudah cinta, kita harus ikut dunia dia. Dia, toh, juga harus
ikut dunia kita.
Apa contoh kesulitan yang Ibu rasakan dalam menyesuaikan diri?
Misalnya soal bahasa. Saya baru bisa bahasa Jawa Keraton halus itu
setelah dua tahun menikah. Sebelumnya kalau ada tamu saya sering ngumpet di kamar. Soalnya tidak bisa ngomong.
Selain itu, saya juga sempat merasa kesepian. Bayangkan, saya kan anak
dari Jakarta yang pindah ke daerah. Tidak punya teman. Akhirnya setelah
anak kedua lahir, saya mulai aktif di Yayasan Sayap Ibu yang baru buka
di Yogya. Sempat juga lho saya diisukan macam-macam karena pulang malam.
Namanya anak-anak kadang sakit tidak kenal waktu. Kalau ada yang sakit
tengah malam, saya yang suka jemput dan antar ke rumah sakit. Lalu ada
orang yang lihat saya menyetir malam-malam dan menuduh macam-macam.
Tapi, saya sendiri tidak menanggapi karena memang tidak melakukan apa
pun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar