Bagaimana dengan anak-anak, sulitkah menyesuaikan diri dengan kehidupan di keraton?
Tidak, biasa saja. Anak-anak punya kesadaran sendiri untuk melestarikan
budaya. Sejak kecil dan sampai sekarang mereka sudah menari dan senang
menari. Paling sesekali bercanda. Misalnya soal kain. Anak saya yang
ke-4 juga tomboi kayak saya. Kadang kalau pakai kain dia bilang, “Boleh
enggak, Bu, jalannya pakai sepatu roda? Soalnya lama banget,
nih.” Hahaha. Kebetulan, dia memang pemain sepatu roda sejak kecil.
Waktu sekolah di Amerika pun dia ke kampus naik sepatu roda.
Biasanya penerus tahta keraton adalah anak laki-laki, sementara
keturunan Sultan saat ini semua perempuan. Bagaimana menurut Ibu?
Kalau ditanya soal ini, saya akan selalu mengatakan kalau itu adalah
kewenangan Sultan. Keputusan ada di tangan beliau. Apapun keputusannya,
tidak masalah buat saya. Anak-anak pun demikian. Kami yakin Bapak itu
orang bijaksana. Kami akan menghargai semua perkataannya.
Dalam hidup Ibu, apa peristiwa yang paling berkesan?
Ada satu yang sangat saya ingat. Pada saat saya mau menikah, Pak Sultan
(Sultan Hamengkubuwono IX, red) berkata pada saya, “Karena suamimu
laki-laki tertua dan kamu upnya 21 orang adik, suka tidak suka, kamu
harus merengkuh semua.” Begitu pesan beliau yang selalu tertanam dalam
benak saya. Jadi, apapun keadaannya, ada yang menyakitkan atau membuat
tertekan, saya selalu merangkul semua. Ucapan beliau benar-benar
berkesan buat saya.
Kalau peristiwa menyedihkan?
Hm, apa ya? Enggak ada yang terlalu menyedihkan rasanya. Soalnya saya termasuk orang yang santai. (Tertawa)
Apakah seterusnya akan aktif di dunia politik? Apa target Ibu ke depan?
Soal aktif di dunia politik atau tidak, saya belum bisa memutuskan.
Sultan tetap mendukung kalau saya tetap bergelut di dunia ini, tapi saya
sendiri berkeyakinan, kalau pun tidak lagi di DPD, saya tetap bisa
berkarya lewat jalur lain. Selama masih mampu, saya akan terus
menyumbangkan tenaga dan pikiran bagi sesama. Itu tekad saya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar