Dia ...

Seseorang yang mempunyai kemampuan besar untuk berkomunikasi dan melaksanakan ide-ide serta menyingkirkan penghalang terbesar dengan tenang disertai usaha yang terus-menerus untuk Indonesia.... dia Gusti Kanjeng Ratu Hemas...

Kamis, 16 Januari 2014

Dunia Penuh Warna - 6

Bagaimana dengan anak-anak, sulitkah menyesuaikan diri dengan kehidupan di keraton?
Tidak, biasa saja. Anak-anak punya kesadaran sendiri untuk melestarikan budaya. Sejak kecil dan sampai sekarang mereka sudah menari dan senang menari. Paling sesekali bercanda. Misalnya soal kain. Anak saya yang ke-4 juga tomboi kayak saya. Kadang kalau pakai kain dia bilang, “Boleh enggak, Bu, jalannya pakai sepatu roda? Soalnya lama banget, nih.” Hahaha. Kebetulan, dia memang pemain sepatu roda sejak kecil. Waktu sekolah di Amerika pun dia ke kampus naik sepatu roda.

Biasanya penerus tahta keraton adalah anak laki-laki, sementara keturunan Sultan saat ini semua perempuan. Bagaimana menurut Ibu?
Kalau ditanya soal ini, saya akan selalu mengatakan kalau itu adalah kewenangan Sultan. Keputusan ada di tangan beliau. Apapun keputusannya, tidak masalah buat saya. Anak-anak pun demikian. Kami yakin Bapak itu orang bijaksana. Kami akan menghargai semua perkataannya.

Dalam hidup Ibu, apa peristiwa yang paling berkesan?
Ada satu yang sangat saya ingat. Pada saat saya mau menikah, Pak Sultan (Sultan Hamengkubuwono IX, red) berkata pada saya, “Karena suamimu laki-laki tertua dan kamu upnya 21 orang adik, suka tidak suka, kamu harus merengkuh semua.” Begitu pesan beliau yang selalu tertanam dalam benak saya. Jadi, apapun keadaannya, ada yang menyakitkan atau membuat tertekan, saya selalu merangkul semua. Ucapan beliau benar-benar berkesan buat saya.

Kalau peristiwa menyedihkan?
Hm, apa ya? Enggak ada yang terlalu menyedihkan rasanya. Soalnya saya termasuk orang yang santai. (Tertawa)

Apakah seterusnya akan aktif di dunia politik? Apa target Ibu ke depan?
Soal aktif di dunia politik atau tidak, saya belum bisa memutuskan. Sultan tetap mendukung kalau saya tetap bergelut di dunia ini, tapi saya sendiri berkeyakinan, kalau pun tidak lagi di DPD, saya tetap bisa berkarya lewat jalur lain. Selama masih mampu, saya akan terus menyumbangkan tenaga dan pikiran bagi sesama. Itu tekad saya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar