Dia ...

Seseorang yang mempunyai kemampuan besar untuk berkomunikasi dan melaksanakan ide-ide serta menyingkirkan penghalang terbesar dengan tenang disertai usaha yang terus-menerus untuk Indonesia.... dia Gusti Kanjeng Ratu Hemas...

Kamis, 16 Januari 2014

Dunia Penuh Warna - 4

Bapak tidak keberatan?
Tidak, beliau santai saja. Ini sudah menjadi komitmen kami berdua. Sebelum menjadi anggota DPD, saya, kan, meminta dukungan Bapak dan anak-anak dulu. Bagi saya, dukungan mereka sangat penting. Karena mereka oke, saya baru jalan. Tinggal berjauhan hanyalah salah satu konsekuensinya. Tapi, saya termasuk beruntung karena memiliki suami yang sangat mandiri.

Bapak suami mandiri?
Sangat. Mungkin tidak banyak orang yang tahu kalau beliau selalu menyeterika sendiri baju yang akan dipakainya pagi hari. Makanya, di kamar saya ada meja seterika. Sepatu juga begitu. Mau saya gosok puluhan kali, tidak akan pernah pas. Beliau maunya gosok sendiri. Kadang kalau ada kunjungan ke luar negeri, beliau malah berkata ke saya, Mana bajumu yang mau kamu pakai? Gantung saja dulu, nanti saya seterikain.Enak, kan? (Tertawa)

Ceritakan, dong, tentang pertemuan Ibu dan Bapak?
Kakek dan nenek saya dari Yogyakarta, sementara saya lahir dan besar di Jakarta. Setiap tahun saya ke Yogya untuk nyekar. Kebetulan kampung eyang dekat dengan keraton. Waktu itu, saya keluar dari gang rumah eyang dan Pak Sultan ada di ujung gang, lagi nongkrong makan bakmi. Sejak melihat saya, Pak Sultan mengaku sudah suka.

Kalau Ibu, awalnya tidak suka dengan Bapak?
Bukannya enggak suka, tapi banyak pilihan lain. (Tertawa)

Bagaimana sampai akhirnya Ibu menerima Bapak?
Sebenarnya saya bukannya menolak, tapi butuh pemikiran. Namanya orang Jakarta yang berkenalan dengan orang daerah. Saat itu saya juga tidak tahu kalau berpasangan dengan anak Sultan itu merupakan sebuah kebanggaan. Saya, sih, menganggap Bapak seperti pria biasa. Tapi, ternyata ibu saya yang merasa sangat bangga dan mendorong-dorong saya untuk menerima Bapak. Saya sempat kabur ke Jerman, lho, untuk memikirkan itu semua. Begitu di sana, ibu memohon pada saya untuk pulang dan menikah dengan sultan. Sebagai anak perempuan satu-satunya, saya kepikiran juga sama ibu yang seumur hidup tidak pernah mantu, selalu ngunduh mantu. Akhirnya saya menuruti Ibu. Lagipula, saya kasihan sama Ibu yang sudah sering pusing dengan kelakuan saya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar